Proyek Sumur Bor Pekon Srimelati, Mubazir dan Sarat Penyimpangan

528
Pembangunan sumur bor di Pekon Srimelati Kecamatan Wonosobo yang didanai dari DD tahun 2020 belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, selain airnya keruh dan bau, tempat penampungan air dikhawatirkan jatuh menimpa masyarakat yang melintas sebab pemasangannya dengan cara ditumpuk. Foto Rio

WONOSOBO–Proyek pembangunan sumur bor di Pekon Srimelati Kecamatan Wonosobo Kabupaten Tanggamus menyisakan persoalan, dimana, pembangunan yang bersumber dari dana desa (DD) tahun 2020 tersebut hingga kini belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga terkesan mubazir dan sarat akan penyimpangan.

Salah satu tokoh masyarakat Pekon Sri Melati yang enggan namanya untuk dipublikasikan mengatakan bahwa, awalnya disepakati pembangunan sumur bor dilakukan di empat titik, namun yang terealisasi hanya satu titik, itupun belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya jamaah Musala.

“Airnya keruh dan bau, jadi tidak bisa dimanfaatkan. Airnya yang dari tower juga kalau penuh, acak-acakan tumpah kebawah,”katanya.

Ia juga mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, kedalaman sumur bor berikut anggaran tidak sesuai dengan perencanaan.”Rencana awal saat musyawarah dusun kedalaman 25 meter dengan biaya Rp 35 juta per titik, tapi kalau kata yang kerja hanya 10 meter dengan biaya tidak seperti rencana awal. Lalu dari empat titik kenapa hanya satu titik , tiga titik lagi kemana, alasan aparatur dialihkan untuk BLT DD,” ujarnya.

Dilanjutkan sumber, selain kualitas air yang tidak bisa dimanfaatkan, tata letak tower juga dikhawatirkan dapat membahayakan masyarakat.”Lihat sajalah mas itu dua tower ditumpuk, kalau ambruk kebawah bagaimana kan bahaya,” kata dia.

Permohonan masyarakat lanjutnya hanya ingin agar, sumur bor dipindahkan ketempat lain sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.”Permintaan kami hanya agar sumur itu dipindah ketempat lain, permohonan ini sudah sering disampaikan namun tidak digubris,”pungkasnya.

Ia juga menyebut ada indikasi korupsi didalam pengelolaan dana desa yang di terima Pekon Sri Melati pada tahun 2020, senilai Rp 748 juta.”Dugaan salah satu item yang terindikasi korupsi yakni material untuk membuat tower baik besi dan bak penampungnya merupakan barang bekas,”kata dia.

Sementara Pj Kepala Pekon Sri Melati Fatonah saat dikonfirmasi, terkesan enggan menanggapi bahkan justru menyalahkan pekerja yang membuat sumur bor.”Langsung kepekerja ya, yang membuat sumur bor, orang Sri Melati juga, saya juga sudah berkirim surat sebanyak tiga kali tapi belum ditanggapi,”ujar Fatomah saat dihubungi melalui telepon.(ral)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here