Disela Monev, Camat Tinjau Kondisi Irigasi Dangkal di Pekon Kejadian

398

WONOSOBO – Pemerintah Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) Dana Desa Tahap II Tahun 2019 di tiga pekon yakni Pekon Kejadian, Kunyayan dan Pekon Balak, Senin (2/9).

Monev tersebut dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Camat, Kapolsek, Danramil, tim pendamping desa serta unsur pimpinan kecamatan (Uspika).

Camat Wonosobo Edi Fahrurrozi kepada Radar Tanggamus mengatakan, kegiatan Monev ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penyerapan anggaran dana desa yang ada di pekon.

“Juga untuk mengetahui apakah Dana Desa ini dilaksanakan atau tidak, sesuai dengan Permendagri atau tidak, dan juga untuk antisipasi preventif bila mana ada hal-hal yang kurang pas, jadi bisa kita lakukan perbaikan,” katanya.

Kegiatan Monev ini, lanjut dia, mulai dilaksanakan sejak 23 Agustus lalu. Per hari rata-rata ada tiga pekon yang melaksanakan Monev. Sejauh ini kata dia, masih ada pekon yang masih salah dalam laporan administrasi.

“Masih ada yang salah dalam laporan administrasi, contohnya seperti pembelian barang. Dan nanti kita suruh buat buku aset sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada, termasuk nanti pembangunan pembangunan yang belum mencapai 60 persen kita minta untuk segera dipercepat karena sudah memasuki Bulan September, ” ujar Edi.

Usai melakukan Monev Dana Desa di Pekon Kejadian, tim monev yang dipimpin Camat Wonosobo Edi Fahrurrozi didampingi Pj Kepala Pekon Kejadian Agus Salim juga menyempatkan diri untuk melihat saluran irigasi disekitar balai rakyat yang kondisinya sudah dangkal.

Camat Wonosobo Edi Fahrurrozi mengintruksikan kepada Aparat Pekon untuk membuat proposal dan selanjutnya akan diusulkan ke Pemerintah Provinsi Lampung. “Irigasi ini wewenang PU Pengairan Provinsi. Kita juga sudah intruksikan ke aparat pekon untuk buat proposal, nanti proposalnya ditujukan ke Balai Besar Way Sekampung,” ungkap Edi.

Sementara itu, Pj Kepala Pekon Kejadian Agus Salim mengatakan bahwa pendangkalan irigasi ini sudah terjadi cukup lama. Dampaknya, kata dia, debit air berkurang dan sangat mempengaruhi lahan pertanian di beberapa pekon yang kekurangan pasokan air.

“Panjang irigasi yang dangkal dan butuh pengerukan sekitar 500 meter. Dan kami berharap agar usulan proposal ini nantinya bisa direalisasikan oleh Pemprov Lampung. Mengingat, sumber air irigasi tersebut sangat penting dan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan areal persawahan yang ada di beberapa pekon, ” kata Agus. (uji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here