4 Tahun Bergelut Dengan Hidrosefalus, Atizah Butuh Uluran Tangan

228

PULAUPANGGUNG – Atizah, balita berusia empat tahun hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Ia tidak bisa bercengkrama

dan bermain layaknya seperti anak-anak pada umumnya.
Pasalnya, anak perempuan asal Blok III, Pekon Tekad, Kecamatan Pulaupanggung, Kabupaten Tanggamus ini diduga menderita

Hidrosefalus, karena ukuran kepalanya lebih besar dibanding tubuhnya yang terlihat lebih mungil.
“Saat Atizah lahir memang sudah begitu (kepalanya lebih besar), makanya waktu itu dilahirkan sesar, biar tidak makin parah,”

ujar Sulaiman, kakek dari Atizah, kemarin.
Dulu, Sulaiman menjelaskan, Atizah pernah coba dioperasi di RSUD Abdoel Moeloek, Bandar Lampung. Saat itu usianya belum genap

setahun, lantas pihak rumah sakit memasukannya dalam inkubator.
Setelah 20 hari, operasi belum juga dilakukan. Pihak keluarga mulai gelisah karena harus menanggung hidup menjaganya selama di

rumah sakit. Akhirnya berdasarkan putusan keluarga besar, Atizah di bawa pulang.
“Waktu itu juga pertimbangan kami, anak ini masih kecil, berat rasanya kalau harus dioperasi. Akhirnya dibawa pulang dan

sampai sekarang tidak pernah lagi periksa ke rumah sakit,” kata Sulaiman.
Ia menambahkan, pengobatan hanya dilakukan secara alternatif. Namun keluarga mengakui hasilnya tidak dapat menyembuhkan Atizah

dari penyakit tersebut.
Untuk saat ini, sebenarnya keluarga berharap ada kesempatan pertolongan lagi kepada putri dari Dini, atau ibunya yang

berstatus janda itu. Sebab usaha yang selama ini ditempuh tidak membuahkan hasil. “Dari puskesmas sudah pernah melihat dan

bilang, ini bisa disembuhkan,” kata Sulaiman lagi.
Saat ini dirinya memang berharap penanganan medis. Namun itu perlu dana dan juga pengaktifan kembali BPJS yang sudah non aktif

sekitar tiga tahun lalu.
“Waktu itu tidak bayar BPJS lagi karena berat bayarnya. Sebab keperluan Atizah juga banyak seperti susu, pempers dan makannya.

Sedangkan dalam BPJS ada enam orang, satu keluarga, bayar tiap bulan, tidak boleh satu orang saja,” ungkapnya.
Ia mengaku, selama ini bekerja sebagai petani kebun dengan hasil tahunan, lalu membuka warung, dan sebagai tukang ojek.

Pendapatan itu hanya bisa untuk keperluan hidup, juga keperluan Atizah.
“Kalau bisa minta bantuan pemerintah gitu, biar bisa operasi. Pokoknya bagaimana usahanya, untuk hasilnya nanti bagaimana

iklas, yang penting usaha sudah dilakukan,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Pekon Tekad, Agus Cik saat dihubungi membenarkan bahwa ada salah seorang warga di pekonya yang diduga

menderita hydrosefalus.” Iya, memang benar. Dan itu sudah sejak lama. Kita juga sudah mengupayakan agar adek Atizah ini bisa

dirawat, namun sayang belum ada support dari keluarganya” singkatnya.

Terpisah, Camat Pulaupanggung Agustam Hamied menambahkan, bahwa saat ini sudah ada donatur yang akan membantu pengobatan

Atizah. “Iyaa..bener, tapi Hari Selasa ada donatur yang mau membawa Atizah ke rumah sakit di Bandar Lampung untuk dioperasi,” pungkasnya.(uji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here