Pasca Tsunami, Pengunjung Teluk Kiluan Turun Drastis

136

KELUMBAYAN–Wisata Pantai Teluk Kiluan Kecamatan Kelumbayan mengalami penurunan jumlah pengunjung bahkan penurunan turun drastis pasca bencana gelombang Tsunami yang terjadi 22 Desember lalu.

Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kiluan, Riko Stefanus, Teluk Kiluan sudah mulai dibuka sejak libur Natal lalu, namun hingga malam tahun baru tak ada satupun pengunjung yang datang. “Tetap buka sejak Libur Natal, namun tidak ada satupun pegunjung yang datang. Kiluan baru kedatangan turis pada Kamis (3/1), itupun jumlahnya tidak sebanyak tahun lalu,” kata Riko melalui aplikasi pesan whatsApp.

Dituturkan Riko, bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Teluk Kiluan tahun lalu mencapai 1.500 an pengunjung. “Ya, tahun lalu sekitar 1.500 an yang berkunjung saat libur Natal dan Tahun Baru, tahun ini sepi,” ujarnya.

Penurunan drastis pengunjung Kiluan dimusim libur Natal dan Tahun Baru ini erat kaitannya dengan kejadian Tsunami yang menerjang Selat Sunda 22 Desember lalu. Teluk Kiluan sendiri merupakan salah satu daerah terdampak. Belum lagi pasca tsunami Gunung Anak Kratau (GAK) dinaikan statusnya menjadi siaga (Level III) dan BMKG mewarning agar menjauhi zona pesisir pantai radius 500 meter-1 Kilometer.

Sementara, Kabid Kedaruratan, BPBD Tanggamus, Adi Nugroho, mengatakan bahwa kondisi Kiluan sekarang sudah mulai berangsur pulih. Tim BPBD yang siaga sejak tsunami juga sudah ditarik. “Ya, personel sudah ditarik, warga juga sudah kembali pulang dari tenda pengungsian,” kata Adi mewakili Kepala BPBD Tanggamus, Romas Yadi.

Sekedar mengingatkan, gelombang pasang dan Tsunami menerjang Teluk Kiluan, Pekon Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus, Sabtu malam (22/12). Akibat terjangan gelombang tersebut satu balita berusia 4 tahun meninggal dunia atas nama Neni Muriati.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus, Ns. Maryani mengatakan, gelombang pasang dan tsunami menerjang Dusun Sinar Maju, Sinar Agung dan Bandung Jaya Pekon Kiluan Negeri sekitar pukul 21.00 WIB.

“Awalnya warga menduga itu hanya gelombang pasang yang hanya menggenang seperti dua tahun lalu, namun air datang dengan deras dan merusak sejumlah bangunan, “kata Maryani mewakili Kepala BPBD Tanggamus, Romas Yadi melalui sambungan telepon, Minggu sore (23/12).

Dilanjutkan Maryani, berdasarkan penuturan warga, setelah terjangan ombak, laut tenang dan menjadi surut, setelah itu datang ombak kembali. Hal ini berulang sampai tiga kali sehingga masyarakat berhamburan menyelamatkan diri ketempat lebih tinggi seperti wilayah perbukitan.

“Saat gelombang menerjang dengan deras sekitar pukul 21.00 WIB, ayah korban bernama Musahid dan ibu korban bernama Sumiati berusaha keluar dari rumah dengan membuka pintu, namun air yang membawa sampah langsung menerjang, sehingga korban Neni yang berusia 4 tahun terlepas dari gendongan dan terbawa air, “ujarnya.

Korban, Neni, terus Maryani, ditemukan 1 jam kemudian di halaman vila Bahana yang berjarak 500 meter dari tempat kejadian dalam keadaan sudah tidak bernyawa.” Kejadian ini memicu sebagian besar warga mengungsi ke gunung-gunung dan tempat yang lebih tinggi, korban sudah dikebumikan Minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB, “terangnya.

Masih kata Maryani, selain korban meninggal dunia, sejumlah bangunan juga rusak akibat terjangan gelombang Tsunami, rinciannya satu rumah hilang, tiga rumah rusak berat, 4 vila/penginapan rusak, 72 perahu rusak berat, serta dermaga dan satu shelter roboh. (ral)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here