Modal Lidi, Cipatakan Peralatan Rumah Tangga

88

PRINGSEWU – Sarwono (45) warga Pekon Banyuwangi, Kecamatan Banyumas ini menjadi ruang produksi peralatan rumah tangga berbahan lidi.

Sarwono bersama istrinya, memberdayakan pemuda di sekitar rumahnya memproduksi piring, nampan, dan perkakas rumah tangga lainnya dari bahan lidi. Bahkan, dia membuat capil nyentrik dari bahan lidi tersebut. Kegiatan yang ditekuni sejak tiga tahun silam ini tidak pernah lekang dari pesanan.

Bahkan Sarwono sampai kualahan menerima orderan. Padahal, lokasi produksi Sarwono tergolong jauh dari keramaian ibu kota Kabupaten Pringsewu. Kurang lebih berjarak 17 kilo meter dari Kecamatan Pringsewu. Sehingga lokasi tinggalnya tidak menjadi kendala bagi Sarwono memasarkan hasil kerajinannya.

Sarwono menekuni kerajinan anyam lidi bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN dari Metro. Pelatihan yang diberikan berupa pembuatan piring dan tempat parcel. Kemudian Sarwono mengembangkan sendiri ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut. “Sekarang ini orang pesan hanya tinggal bawa gambar, kami bisa buatkan asal sesuai dengan biayanya,” ujar Sarwono.

Sarwono yang tinggal di wilayah pedesaan tidak kesulitan mencari bahan baku lidi. Sebab, di wilayahnya masih banyak terdapat pohon kelapa. Dia membeli lidi per pelepah pohon kelapa seharga Rp 500. Dengan satu pelepah, Sarwono dapat membuat satu piring lidi. 

Dalam pengerjaan kerajinan lidi ini, Sarwono memberdayakan pemuda kampungnya. Pada saat sudah tidak bekerja di kebun dan sawah, mereka bertandang ke rumah Sarwono menganyam lidi. Sebagaimana yang dilakukan Subani (30). Sebelumnya Subani lebih banyak menganggur dan pekerjaannya tidak jelas setelah pulang dari mengerjakan kebun dan sawah.

Saat ini, Subani dengan menekuni kerajinan di rumah Sarwono dapat menghasilkan rupiah dengan menganyam piring lidi. Menurut dia, tidak sulit, sembari duduk dan ngobrol saja bisa menyelesaikan sejumlah kerajinan piring lidi. “Kalau rajin bisa dapat lebih banyak,” ujarnya.

Kerajinan Sarwono ini dalam satu bulan omsetnya mencapai Rp 1,5 juta. Sedangkan harga kerajinannya mencapai Rp 85 ribu untuk satu lusin piring lidi. Sedangkan topi lidi mencapai Rp 50 ribu. (Mul).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here