Bangunan SPDN “Mangkrak”, Nelayan Terpaksa Antre di SPBU

479
OPD BAKAL DIPANGGIL: Tidak beroperasinya SPDN di Kompleks TPI Kotaagung menjadi perhatian dari kalangan anggota DPRD Tanggamus. Anggota DPRD Tanggamus Ahmadiyan mengaku bakal memanggil OPD terkait untuk meminta penjelasan mengapa SPDN tidak beroperasi.(Foto Rio Aldipo)

KOTAAGUNG – Bangunan solar paket diesel nelayan (SPDN) di kompleks tempat pelelangan ikan (TPI) Kotaagung saat ini kondisinya terbengkalai. Padahal tujuan adanya SPDN adalah untuk memudahkan nelayan dalam mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk melaut, dengan kondisi itu tak ayal nelayan terpaksa antre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Berdasarkan pantauan Radar Tanggamus, neon box lampu SPDN pada bagian atas sudah ada yang pecah, pagar berkarat, pada bagian luar dikelilingi sampah.

Rusli salah satu nelayan Kotaagung mengatakan, kerusakan SPDN sebagai penyedia bahan bakar bagi nelayan tersebut, lantaran SPDN tersebut sudah lama tidak beroperasi, sehingga menimbulkan kerusakan, khususnya yang terjadi pada pagar besi SPDN yang selama ini tertutup rapat, lalu pada tangki penampung solar juga tidak luput dari kerusakan dimana terlihat tangki sudah berkarat, dan sebagian cat sudah mengelupas

“Peralatan lainnya baik itu besi selang serta alat pelengkap lainnya sudah ada yang hilang, sedangkan kondisi tangki masih kokoh hanya butuh perbaikan saja karena berkarat, selain itu menurutnya akibat vakumnya SPDN tersebut tanaman liar sudah menjalar tumbuh di pagar dan halaman SPDN yang dipaving,” ujarnya.

Dilanjutkan Saiful jika cat-cat pada dinding kantor telah mengelupas dan banyak coretan, bagian profile atap juga sudah banyak yang lepas, setelah tidak dibuka lagi sepertinya tidak ada perawatan, dibiarkan gitu saja, lama-lama jadi tidak terawat, dan saat ini SPDN dijadikan sarana bermain anak-anak.

“Membuang-buang uang negara saja. Coba kalau uang yang untuk membuat SPDN itu digunakan untuk membantu usaha nelayan, atau membangun rumah nelayan miskin, maka tidak mubazir, ada manfaatnya. Ini tidak ada manfaatnya sama sekali,” cetus Rusli.

Akibat tidak difungsikannya SPBN itu, memaksa nelayan setempat membeli solar ke SPBU terdekat. Padahal, maksud dibangunnya SPDN ini adalah memberi kemudahan kepada nelayan Kotaagung mendapatkan solar.

“Awalnya kami berharap, keberadaan SPDN ini dapat membantu kami dalam menyediakan BBM, karena selama ini kami beli BBM ke SPBU. Tetapi ternyata SPDN ini hanya berumur pendek,” terang Rusli.

Yanto, nelayan lainnya mengungkapkan, keberadaan SPBN itu belum memberikan manfaat bagi nelayan, karena sejak selesai dibangun fasilitas tersebut tidak difungsikan dan terbengkalai. “Setahu saya, belum pernah yang namanya kami memperoleh solar atau bensin di SPBN ini, ya karena tidak beroperasi,” kata dia.

Selama ini, kata dia, nelayan terpaksa membeli solar dan bensin ke SPBU atau ke pengecer dengan harga mahal. “Kami beli ke SPBU atau melalui pengecer. Jadi kami juga harus mengeluarkan uang lebih, baik untuk agen ditambah ongkos ojek atau ongkos becak,”jelasnya.

Hal itu dibenarkan sejumlah nelayan lainnya. Menurut mereka, selama ini mereka kesulitan dalam memperoleh solar dan bensin.“Selama ini, untuk mendapatkan bahan bakar, setiap liternya kami harus membayar lebih yakni senilai Rp500, dan jika kami membutuhkan solar sebanyak 200 liter setiap melaut, berarti kami harus merogoh kocek senilai Rp100 ribu, hanya untuk membayar kurir, belum lagi ditambah biaya untuk membayar solarnya yang mencapai Rp1.030.000,” ungkap Reki nelayan lainnya.

Para nelayan, menurut Reki, sangat membutuhkan adanya SPDN. Pasalnya, selama ini para nelayan sangat kesulitan mendapatkan BBM dengan harga normal.

“Kami bingung hanya di Kotaagung yang tidak ada SPDN nya, atau ada tapi tak berfungsi, sedangkan di pelabuhan lain yang kami tahu, semuanya disediakan SPDN. Padahal, jika dikaitkan dengan jumlah nelayan, kami juga sudah cukup banyak yakni mencapai ribuan,” tuturnya.

Sekadar diketahuin SPDN pelabuhan perikanan Kotaagung, mampu menampung stok solar sebanyak 15 ribu kilo liter, dan hal tersebut dijual hanya bagi nelayan yang akan melaut, luas SPDN mencapai 20×20 meter, awalnya SPDN tersebut sempat beroperasi beberapa bulan pada tahun 2013 lalu, akan tetapi hingga saat ini tidak beroperasi, nelayan sendiri berharap SPDN tersebut bisa beroperasi, hal ini memudahkan mereka mencari bahan bakar untuk melaut.(zep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here