Tanggamus Berupaya “Katrol” IPM IPM Tanggamus Stagnan di Posisi 11

185
BAHAS IPM : Balitbang Kabupaten Tanggamus mengadakan Foccus Group Discusion (FGD) di ruang rapat utama Setda Kabupaten Tanggamus, Kamis (19/4). FGD yang mengundang Satker terkait seperti Bappeda, Diskes dan Disdik ini untuk mencari solusi agar IPM Tanggamus dapat meningkat dari Posisi 11 kabupaten/kota se Lampung bisa masuk minimal 9 besar. Foto: Rio Aldipo

KOTAAGUNG—Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tanggamus saat ini berada diperingkat 11 dari 15 kabupaten/kota se Provinsi Lampung. Untuk mengatrol posisi IPM tersebut, Badan Penelitian dan Pembangunan (Balitbang) Kabupaten Tanggamus menggelar Foccus Group Discusision (FGD), Kamis (19/4) di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Sekretariat Daerah Kabupaten Tanggamus.

Dalam FGD yang dibuka Asisten Bidang Ekobang FB. Karjiyono tersebut, Balitbang mengundang sejumlah  oraganisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Kesehatan (Diskes), Bandan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mencari mengetahui permasalahan berikut mengatasinya sehingga IPM Tanggamus bisa meningkat.

Pj Bupati Tanggamus dalam sambutannya yang diwakili FB. Karjiyono mengatakan, paradigma pembangunan telah mengalami pergeseran , yakni dari pembangunan ekonomi menjadi  pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang diukur dari meningkatnya kualitas SDM.

“IPM Kabupaten kita ini dalam masalah.  Bermasalah  karena IPM kita langganan pada peringkat belasan dalam empat tahun terakhir yakni peringkat 11 dari 15 kabupaten/kota di Lampung. Jika IPM ini indikator pembangunan  maka dibanding kabupateb tetangga  pembangunan kita kurang optimal,”tegas Karjiyono.

Karena IPM ini strategis,  Karjiyono meminta agar  FGD ini diperluas dengan melibatkan stakeholder,  mulai dari LSM perguruan tinggi dan perwakilan semua OPD.  ” Sebagai contoh masalah ekonomi harus melibatkan perkebunan peternakan dan lain-lain, sehingga IPM kita ini meningkat, kalau tidak bisa lima besar, minimal 10 atau 9 besar,”  kata dia.

Kabid Pengendalian, Bappeda Tanggamus, Gustam Apriansyah mengatakan IPM adalah indeks yang mengukur pembangunan manusia dari tiga aspek dasar yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan melalui indikator rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah serta standar hidup layak melalui pengeluaran per kapita.

“IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM juga dijadikan salah satu indikator target pembangunan pemerintah dan juga digunakan sebagai salah satu alokator dalam penentuan dana alokasi umum (DAU),”ujar Gustam.

Masih kata Gustam, IPM di Tanggamus sejak tahun 2014 berada di posisi ke 11 dari 15 kabupaten/kota, dimana tahun 2014 IPM Tanggamus 62,57, tahun 2015 63,66 dan tahun 2017 64,41. Jika dirincikan berdasar indikator, angka harapan hidup 67,61 tahun, harapan lama sekolah 11,93 tahun, rata-rata lama sekolah 6,87 tahun dan pendapatan perkapita Rp8. 483.000/tahun.

“Untuk mencapai target peningkatan angka harapan hidup maka diperlukan kebijakan lintas sektor antara lain memperkuat upaya promotif dan preventif,, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, mempercepat akses dan mutu pelayanan kesehatan serta meningkatkan respon pelayanan kesehatan (cepat, tepat, bersahabat),”terangnya.

Sementara, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Wahyu Widayati dalam penjabarannya mengatakan jika penyebab masalah kesehatan disebabkan faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan diantaranya praktek pengasuhan yang kurang baik, kurangnya pengetahuan kesehatan, kurangnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat, kurangnya akses makanan sehat dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

“Strategi untuk mendongkrak IPM melalui peningkatan angka harapan hidup yakni menjalin komitmen dan adanya dukungan lintas sektor, meningkatkan sumber daya sarana, prasarana dan manusia kesehatan, sosialisasi dan mememasyarakatkan program 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dan pemanfaatan jaminan yang ada dimasyarakat seperti JKN, Jampersal, PBI daerah, PKH dan jaminan kesehatan lainnya, “ujar Wahyu.

Kemudian IPM dari sisi pendidikan, di Kabupaten Tanggamus angka melek huruf jenjang SD jumlah sekolah 409 dengan jumlah siswa 60.096 dan guru 4.545 sementara SMP 181 sekolah, dengan jumlah siswa 18.983 dan guru 1.322. Lalu untuk persentase penduduk usia 7-24 tahun menurut kelompok umur sekolah dan partisipasi sekolah di Kabupaten Tanggamus tahun 2016 usia 7-12 tahun yang tidak/belum sekolah 0,96 persen, masih sekolah 99,04 persen, usia 13-15 tahun masih sekolah 90,20 persen dan tidak sekolah 9,80 persen, kelompok usia 16-18 tahun, masih sekolah 76,48 persen, tidak sekolah 23,52 persen dan usia 19-24 tahun tidak sekolah 0,39 perseb, masih sekolah 19,34 persen dan tidak sekolah 80,27 persen.

“Solusi untuk meningkatkan IPM dari sisi pendidikan untuk angka melek huruf, selain melalui pendidikan formal juga dilakukan dengan jalur paket. Lalu untuk meningkatkan peran pendidikan pada pertumbuhan IPM terutama angka rata-rata lama sekolah Pemkab Tanggamus hendaknya terus berinovasi membangun kerjasama dengan Pemprov dalam pelaksanaan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, “kata Sekretaris Dinas Pendidikan Tanggamus, Supriatno.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemerintahan, Balitbang Tanggamus, Usman mengatakan, dalam FGD yang membedah IPM di Tanggamus menghasilkan sejumlah rekomendasi diantaranya FGD harus sering dilakukan dengan melibatkan seluruh stake holder termasuk perguruan tinggi, LSM dan insan pers

Kemudian rekomendasi bidang pendidikan yakni memetakan wilayah berbasis data yang diperbarui untuk meningkatkan lama rata rata sekolah dengan menggalakkan pendidikan kesetaraan paket  A, B dan C dengan melibatkan kelembagaan masyarakat ditingkat pekon.

“Lalu melakukan kerja sama pengawalan survey sosial ekonomi nasional dengan BPS untuk pengambilan data IPM, sebab IPM adalah hal strategis, “kata Usman. (ral)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here