Hutan Gundul, Banjir dan Longsor Mengintai

393

KOTAAGUNG – Kondisi hutan lindung register 30 Gunung Tanggamus saat ini cukup mengkhawatirkan. Hal ini lantaran sebagian tanah diduga telah berubah menjadi lahan budidaya sayuran oleh perambah. Akibatnya, bahaya banjir dan longsor selalu menghantui ketika hujan deras.

Wawan salah satu Mahasiswa Pencipta Alam (Mapala) mengatakan, hutan lindung register 30 saat ini membutuhkan penanganan yang serius.

Hal tersebut dikarenakan, hutan yang sangat penting fungsinya untuk menopang sistematik alam ini, telah mengalami kerusakan yang sangat parah dan dapat dibilang cukup kritis.”Pemerintah harus mengambil sikap yang tegas sebelum bencana besar datang. Hutan Tanggamus sudah berubah menjadi ladang sayuran,”katanya, kemarin.

Menurutnya, keberadaan hutan register 30 Gunung Tanggamus adalah sebagai hutan penyanggah atau zona inti yang melindungin beberapa Pekon diantaranya yaitu, Sidokaton, Gisting Bawah, Gisting Atas, Gisting Permai, Campang dan Pekon Dadapan.

Artinya hutan register 30 Gunung Tanggamus ini sangat butuh perawatan dan pelestarian yang ektra jangan di biarkan saja, karna akan menjadi bom waktu kedepannya, berupa banjir dan longsor.”Tidak bisa dipungkiri kejadian banjir di Gisting beberapa waktu lalu dampak dari hutan gundul,”kata Wawan.

Ia menjelaskan, jika dilihat secara langsung memang kondisi Tanggamus sudah mengkhawatirkan. Bahkan, sudah ratusan hektar hutan berubah.“Kerusakan hutan tidak hanya akan berdampak kepada ekosistem yang ada di dalam hutan saja. Tapi juga berdampak terhadap sumber mata air dan cuaca secara global, serta bencana banjir dan longsor mengintai, ” terangnya.

Wawan melanjutkan, agar pemerintah tegas dalam menjaga hutan. Menjaga dalam artian menjaga dengan benar, kemudian jangan hanya mengadakan program penanaman reboisasi, tapi juga harus ada program perawatan.

“Dari pemantauan memang ada usaha dari Pemerintah menanggulangi kerusakan hutan tersebut, dengan cara melakukan penanaman pohon jenis kayuan kerjasama dengan petani. Namun program tidak dibarengi dengan perawatan sehingga sebagian besar tanaman mati,”pungkas Wawan.

Sebelumnya, Pemkab Tanggamus melalui Asisten Bidang Ekobang FB.Karjiyono sudah menegaskan kepada para perambah untuk menghentikan aktivitasnya di hutan lindung. Sebab dengan menggunduli hutan dan menggantinya dengan sayuran akan berakibat fatal.

”Kalau diatas itu sudah rusak, maka air tidak lagi terserap dengan baik, sebab pohon yang menjadi tegakan sudah tidak ada lagi, ujung-ujungnya air mengalir kebawah dan menyebabkan banjir serta tanah longsor, jadi untuk itu kami imbau kepada masyarakat untuk tidak merusak hutan, “ ujar Karjiyono.(zep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here