Terombang Ambing di Laut, Selamat Berkat Triplek, Kaso dan Jeriken

142
CERITAKAN KRONOLIGIS: Kasiman (57) nahkoda kapal Berkah Saudara menceritakan kronologi karamnya kapal di perairan Batutangkai, Karangbrak, beberapa waktu lalu. Menurut dia, karamnya kapal tersebut lantaran diterjang ombak tinggi bukan karena overkapasitas. Foto: Hanibal Batman

Karamnya kapal penumpang Berkah Saudara jurusan Kotaagung-Karang Brak Pematangsawa, Kamis (12/4) hingga menelan dua korban jiwa menyisakan cerita sendiri bagi korban yang selamat, salah satunya adalah Kasiman  (57) Nahkoda kapal. Kepada Radar Tanggamus, Ia mengungkapkan bahwa seluruh penumpang termasuk dirinya hanya mengandalkan jeriken, triplek dan kayu kaso agar tetap mengapung dilaut sebelum akhirnya diselamatkan kapal nelayan. Seperti apa penuturan lengkap sang Nahkoda? berikut penelusurannya.

Laporan Hanibal Batman, Kotaagung.

Area pelabuhan dermaga Kotaagung, Kelurahan Pasar Madang, Jumat (13/4) sore sekitar pukul 15.30 WIB masih terik. Niat untuk mencari informasi tentang karamnya kapal Berkah Saudara, sempat memudar karena beredar informasi baik nahkoda, ABK serta seluruh penumpang kapal Berkah Saudara masih berada di Karang Brak, Kecamatan Pematang Sawa dan belum diketahui pasti kapan akan ke Kotaagung.

Setelah sempat bercengkrama dan terlibat pembicaraan, seputar kejadian karamnya kapal dengan Kabid Kedaruratan, BPBD Edi Nugroho serta Kepala Pos SAR Adi Ayang Syah, saya memberanikan diri untuk menanyakan apakah ada penumpang kapal Berkah Saudara asal Kotaagung yang bisa dimintai keterangan. Saat itu juga Edi Nugroho dan Adi Ayang Syah, kompak menjawab tidak ada.

“Jumlah orang yang berada di kapal yakni 18, termasuk ABK semuanya telah dievakuasi ke Karang Brak, korban meninggal dunia atas nama Satiyem (60) di makamkan di Karang Brak sedangkan Kaminah (51) warga Desa Sridadi, Kecamatan Kalirejo Lampung Tengah juga sudah di makamkan ke kampung halamannya, akan tetapi untuk keperluan pemeriksan Nahkoda Kapal Berkah Saudara kita bawa ke Kotaagung, hanya saja butuh waktu jika ingin mengetahui pasti kejadian karena beliau lagi istirahat dan menghilangkan trauma,”kata Edi Nugroho.

Kurang lebih satu jam menunggu, personel gabungan BPBD dan SAR juga telah meninggalkan dermaga Kotaagung. Edi Nugroho juga sempat menyarankan agar saya bertemu dengan Iqbal yang merupakan pengurus penyeberangan. Tak lama berselang, saya bertemu dengan Iqbal, tentunya dengan harapan bisa dipertemukan dengan Kasiman, Nahkoda Kapal Berkah Saudara. Akhirnya dengan bantuan, Iqbal, saya dapat menemui Kasiman.

“Kita ngbrol di warung saya saja, nanti Pakde (Kasiman) juga sebentar lagi akan kesini beliau habis istirahat, lebih bagus memang begini agar supaya tidak ada simpang siur tentang kejadian ini,”ujar Ikbal ramah.

Tak lama kemudian, Kasiman Nahkoda kapal Berkah Saudara tiba, tanpa banyak basa-basi karena memang sudah paham maksud dan tujuan, ia mulai menceritakan awal kejadian naas tersebut. Mengawali ceritanya, Kasiman menuturkan, jika tidak ada tanda-tanda aneh pada saat bertolak dari dermaga Kotaagung, namun diakuinya sepanjang perjalanan cuaca sangat tidak bersahabat, terlebih saat akan bersandar di Karang Brak, ia kesulitan mengendalikan laju kapal karena besarnya hantaman ombak.

“Waktu hantaman ombak pertama, perahu saya masih bisa menahan, itu di tengah laut. Terus hantaman kedua yang tidak bisa melawan sama sekali. Bagaimana tidak, tinggi ombak itu tiga meter sedangkan tinggi perahu saya tidak sampai tiga meter diatas permukaan laut,”terangnya.

Akibat hantaman ombak tersebut, lanjutnya air langsung menggenangi kamar mesin. Saat itu mesin masih menyala. Lalu dua anak buah kapal Imam (22) dan Aang (18) mencoba menguras air di kamar mesin tersebut dengan menyalakan mesin penyedot air.

“Saat itu dihantam ombak lagi karena pintu kamar mesin terbuka akhirnya kamar mesin penuh air. Saat itulah mesin kapal mati. Ternyata air yang masuk ke kapal juga menggenangi tengah kapal. Saya mencoba untuk tenang sambil beritahukan kepada penumpang mengenai kondisi kapal,” ujar Kasiman.

Ditengah perahu sudah terombang-ambing akibat hantaman ombak, air terus masuk ke lambung kapal. Kemudian nahkoda mengimbau agar penumpang membawa barang-barang yang penting saja. Sebab untuk mempertahankan perahu juga mustahil mengingat perahu sudah kemasukan air cukup banyak, sehingga kapal karam sekitar 300 meter mendekati pelabuhan sandar Pekon Karangbrak.

“Karena hantaman ombak berkali-kali kapal itu miring ke kanan ke kiri, saat itulah air masuk. Bayangkan saja air masuk tiga hingga empat drum, kapal lalu karam, beruntung penumpang termasuk saya bisa selamat, karena ada triplek, jerigen serta kaso sebagai pelampung, kurang lebih setengah jam mengapung dilaut sebelum akhirnya di tolong perahu nelayan karena mereka melihat streopom mengapung dilaut,”kenangnya.

Dalam situasi panik seperti itu, lanjutnya yang ada dibenaknya saat itu adalah bagaimana memikirkan untuk menyelamtkan diri, pelampung keselamatan juga menurutnya ada, di lemari, akan tetapi karena kondisi panik tidak memikirkan untuk mengeluarkan pelampung.

“Saya sempat menolong Almahrum Satiyem, ke arah tepi, saat itu ia sempat pingsan lalu kemudian menghembuskan nafas terakhir,  perahu nelayan yang menolong pertamanya satu perahu, terus ke darat datang lagi empat perahu, akhirnya sampai tujuh perahu semuanya, saya tidak bisa komunikasi dengan pelabuhan di sini, hpnya tenggelam sebelum akhirnya ada warga yang punya no hp orang pelabuhan Kotaagung,”tandasnya.

Sementara itu, pengurus penyebrangan Kotaagung, Iqbal mengatakan perahu Berkah Saudara mengangkut 18 orang, terdiri tiga anak buah kapal, dan 15 sisanya penumpang. Dan dari 15 orang tersebut 13 orang membayar tiket sehingga namanya dicatat. “Untuk anak-anak tidak saya kenai tarif sehingga namanya tidak ditulis, sebab penulisan nama sesuai tiket yang dibeli, dan untuk anak-anak saya toleransikan tidak membayar tiket,” ujarnya

Persoalan jumlah penumpang dan manifestasi nama penumpang sempat  menjadi simpang siur hingga memunculkan dugaan ada penumpang gelap dan itu hilang. Untuk hal ini, pihak agen penyeberangan, Basarnas, dan BPBD, sudah cek ulang dan ditegaskan jumlah orang yang ada di perahu Berkah Saudara 18 orang.

“Keseluruhan semua baik penumpang, ABK, san Nahkoda berjumlah 18 orang, ini berdasarkan manifestasi jumlah tiket yang dikeluarkan oleh pihak penyebrangan, ini untuk menjawab kesimpang siuran tentang jumlah orang yang berada di kapal Berkah Samudra yang karam Kamis kemarin,”kata Kabid Kedaruratan Edi Nugroho dan Kepala Pos SAR Adi Ayang Syah.

Sementara itu, terkait santunan bagi korban jiwa dan penumpang Sigit Purnomo, selaku Kepala Samsat Jasa Raharja Kota Agung, mengatakan pihaknya langsung serahkan santunan jiwa Setelah mendapat informasi tentang karamnya kapal tersebut.

“Kami datang lalu cek untuk pemberian asuransi jiwa, nilai asuransi yang diberikan untuk satu korban jiwa meninggal dunia Rp 50 juta, terkait peristiwa ini maka totalnya Rp 100 juta, untuk korban Satiyem dan Kaminah, sedangkan luka-luka maksimal Rp 20 juta. Asuransi langsung diberikan kepada ahli waris,” ujar Siigit. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here