Jembatan “Horor” Banjarnegara Masih Difungsikan

300
MASIH DILINTASI : Meski kondisinya sudah tidak laik dan sempat menelan korban jiwa, namun jembatan Gantung Banjarnegara hingga kini masih tetap difungsikan. Tampak beberapa pengendara saat melintasi jembatan gantung tersebut. Foto dibidik kemarin (2/4).(Foto Uji Mashudi)

WONOSOBO – Meskipun pada tahun lalu sempat menelan tiga korban jiwa, namun jembatan gantung Banjarnegara, penghubung antara Kecamatan Wonosobo dan Semaka, Kabupaten Tanggamus hingga kini masih difungsikan.

Pantauan Radar Tanggamus di jembatan gantung Banjarnegara, kemarin (2/4), terlihat masih banyak pegendara roda dua yang melintasi jembatan tersebut, baik dari arah Wonosobo maupun Semaka.

Salah satu pengelola Jembatan Banjarnegara, Bargo mengatakan, jembatan ini masih difungsikan karena kondisinya mendesak dan dibutuhkan oleh warga. Sebab, jembatan ini merupakan salah satu jalur alternatif yang cukup efektif untuk menuju Kecamatan Semaka maupun sebaliknya.

“Sangat dibutuhkan oleh warga, terutama anak sekolah, jadi jembatan ini kita fungsikan lagi, ” katanya.

Sebelumnya kata dia, jembatan beroperasi selama 24 jam. Namun pasca munculnya korban jiwa akibat patahnya lantai jembatan gantung pada tahun lalu, pihaknya membatasi waktu operasi jembatan. Saat ini jembatan tersebut hanya beroperasi dari pagi hingga sore hari yakni sejak Pukul 06.00 Wib hingga Pukul 18.00 Wib.

“Jembatan ini hanya beroperasi dari pagi sampai sore hari, setelah itu kita tutup jembatan menggunakan rantai dan digembok, selanjutnya dikasi palang kayu. Sebab, jika malam hari tidak ada yang menjaga jembatan ini, kami takut kejadian waktu itu terulang lagi, ” ujar Bargo

Warga Pekon Kanoman ini menambahkan, kapasitas kendaraan yang mengangkut muatan juga saat ini dibatasi. Semisal pengendara roda dua yang mengangkut minyak menggunakan jerigen saat ini hanya diperbolehkan membawa sebanyak 3 jerigen. Hal itu guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan saat di atas jembatan gantung.

“Kalau muatannya terlalu banyak juga kan kendaraannya bisa tidak stabil, dan tentunya membahayakan bagi pengendara itu sendiri. Makanya kita batasi, karena untuk mengantisipasi patahnya kayu alas jembatan juga, ” terangnya.

Menurutnya, selama ini jika ada kerusakan pada jembatan, maka perbaikan hanya dilakukan oleh warga setempat secara swadaya, dengan menggunakan sumbangan dana sukarela dari para pengguna jembatan.

“Ya, uang sukarela ini kita gunakan untuk merawat dan memperbaiki kerusakan jembatan, seperti mengganti kayu dan lainnya. Sebab, tidak ada dana khusus dari pemerintah untuk perbaikan jembatan ini,” terangnya.

Sementara itu, Sutrisno salah satu pengguna jembatan saat diwawancarai mengaku, terpaksa melewati jembatan gantung tersebut. Sebab, menurutnya, jembatan tersebut merupakan salah satu alternatif untuk menuju kecamatan Semaka maupun Wonosobo saat kondisi sungai sedang banjir.

“Kalau debit air sungai tinggi, perahu penyebrangan tidak bisa beroperasi, begitu juga saat air sungai dangkal. Jadi terpaksa lewat jembatan gantung, karena kalau mau lewat Jalinbar atau Jembatan Merah Karangrejo muternya cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama, ” ungkapnya. (uji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here