UMKM Jadi Salah Satu Unggulan

146

PRINGSEWU – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Pringsewu menyelenggarakan seminar usaha kecil dan menengah (UKM) di aula kampus setempat, Senin (26/2) kemarin. Acara tersebut merupakan rangkaian Economic Event dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Pringsewu ke – 9.

Dalam sambutannya Bupati Pringsewu Sujadi Sadat yang diwakili oleh Asisten Bidang Pembangunan Ir. Junaidi Hasyim mengatakan sektor UKM merupakan salah satu sektor unggulan terhadap pembangunan bangsa, khususnya Kabupaten Pringsewu, untuk itu katanya, Pemkab Pringsewu selalu mendukung adanya sektor UKM.

“Perkembangan ekonomi dunia akan didominasi oleh usaha kecil dan menengah. Daerah yang memiliki jaringan yang kuat pada usaha kecilnya akan berhasil dalam persaingan industri di pasar domestik maupun global. Oleh karena itu pemberdayaan UKM merupakan langkah jitu membangkitkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Dia melanjutkan peranan UKM dirasakan begitu penting karena sektor ini tidak hanya sebagai sumber mata pencarian, tetapi juga menyediakan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat dengan tingkat pengetahuan dan keterampilannya yang rendah. “Artinya UKM mampu menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Selaku pemateri Teguh Wiji Setyahadi dari Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan UKM (PLUT KUMKM) Kota Surakarta. Dia memaparkan terkait permasalahan yang kerap melanda para pelaku UKM dan solusi untuk memecahkan persoalan tersebut.

Dia mengatakan ada beberapa penyakit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pertama, Kutil artinya kurang terampil dalam hal pemasaran, branding produk, maupun pembukuan keuangan. Kurap artinya kurang motivasi, kurang ilmu, kurang disiplin dan kurang networking.

Selanjutnya, batuk artinya barangnya ketinggalan jaman (jadul) tidak pernah melakukan inovasi. Mencret artinya menjualnya ceroboh dan teledor. Tuli artinya satu pembeli, pemasaran belum maksimal, kurang promosi dan publikasi. Campak campuran antara usaha dan keluarga, tidak dapat dipisahkan antara usaha dengan kebutuhan keluarga.

Dia kemudian memaparkan ada 3 solusi untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu akseleratif, partisipatif, dan integratif. Partisipatif artinya perlu adanya keterlibatan yang ada masih bersikap sendiri – sendiri dan koordinasi serta kolaborasi antara stakholder satu dengan yang lain.

Integratif maksudnya perlunya fasilitasi yang diberikan pemerintah di berbagai bidang, baik promosi – pemasaran, pelatihan SDM, produktivitas, permodalan maupun kelembagaan. Akseleratif artinya teknologi yang semakin murah dan canggih maka pelaku usaha harus mengikuti arus perubahan melalui pemberdayaan yang semakin dipercepat.

Ketua STIE Muhamadiyah Pringsewu Sapto Yuono mengatakan disamping seminar, rangkaian kegiatan Economic Event antara lain lomba debat antar mahasiswa, futsal, film pendek, lomba solo song, kaligrafi, MTQ, dan terakhir jalan sehat dan donor darah. “Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan mulai 26 Februari – 10 Maret 2018,” pungkasnya.(arf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here