Efek BOK, tekan AKI dan AKB

339
ilustrasi

GISTING -Adanya kucuran dana dari pemerintah pusat berupa Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sangat dirasakan efek positifnya bagi masyarakat Tanggamus. Untuk tahun 2017, Dana BOK untuk Tanggamus sebesar Rp9, 7 miliar, sementara untuk tahun 2018 BOK yang bakal diterima jumlahnya diperkirakan Rp14,1 miliar.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Tanggamus Sukisno mengatakan, kebijakan BOK mulai direalisasikan sejak medio 2010, untuk membantu puskesmas dan jaringannya serta sebagai upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM). Hal itu dalam rangka melaksanakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) menujuĀ Millenium Development GoalsĀ (MDGs).

BOK pada tahun 2017, kata Sukisno, penyerapannya sekitar 95 persen. Sebagian besar digunakan untuk program kesehatan, dalam rangka penurunan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (AKI), pencegahan dan penanggulangan kasus gizi buruk, dan Prgram Upaya Kesehatan Masyatakat (UKM).

“Salah satu tujuan BOK adalah membuat zero (nol) AKI dan AKB di Tanggamus. Tahun 2016, AKI ada 11 kasus. Sementara tahun ini hingga 16 Desember, tercatat nasih ada 8 ibu meninggal dunia saat melahirkan. Meski demikian sudah menjukkan tren yang menurun,” ujar Sukisno saat Pertemuan Penggerakkan dan Evaluasi BOK (DAK Non Fisik) Tanggamus tahun 2017 di Hotel 21 Gisting, Sabtu (16/12).

Untuk puskesmas yang selalu ada kasus ibu dan bayi meninggal, Sukisno menyebutkan, antara lain adalah Puskesmas Gisting, Talangpadang, dan Kotaagung. Selama dua tahun berturut- turut masih ada kasus ibu dan/atau bayi meninggal.

“Penyebabnya, mungkin karena wilayah-wilayah tersebut jumlah penduduknya padat dan daerahnya urban,” tutur Sukisno yang didampingi Sekretaris Diskes Taufik Hidayat.

Jika di wilayah urban kerap terjadi kasus ibu dan/atau bayi meninggal, di wilayah rural justru sebaliknya. Menurut Sukisno, ada lima puskesmas, yaitu Puskesmas Pasar Simpang, Kedaloman, Margoyoso, Pulaupanggung, dan Bulok Sukamara, sudah lima tahun berturut-turut tidak ada kasus kematian bayi.

“Demikian juga di Puskesmas Kelumbayan, tidak ada kasus kematian ibu selama lima tahun berturut-turut. Sama halnya dengan kasus gizi buruk, juga tidak ada,” kata mantan Dirut RSUD Kotaagung itu.

Beberapa item kegiatan yang dapat dibiayai BOK, kepala diskes melanjutkan, antara lain adalah Transport Lokal. Meliputi pembiayaan perjalanan petugas kesehatan dalam upaya pelayanan kesehatan promotif dan preventif ke luar gedung. Membiayai perjalanan peserta rapat lokakarya mini, Survei Mawas Diri (SMD), dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) dan perjalanan dinas lainnya.

“Poin kedua, adalah membiayai pembelian atau belanja barang. Misalnya membiayai pembelian barang-barang untuk mendukung pelaksanaan kegiatan upaya kesehatan promotif dan preventif ke luar gedung, yang meliputi pembelian bahan PMT penyuluhan/pemulihan, pembelian konsumsi rapat, penyuluhan, dan membiayayai pencetakan/penggandaan/penyediaan bahan untuk penyuluhan kepada masyarakat. Lalu membiayai pembelian/belanja barang untuk mendukung pelaksanaan manajemen puskesmas, manajemen pengelolaan keuangan BOK, SMD, MMD, yang meliputi pembelian alat tulis/kantor untuk kegiatan pendukung BOK, pembelian materai, penggandaan/fotokopi laporan, pengiriman surat/laporan, dan pembelian konsumsi rapat,” papar Sukisno.

Selain itu, BOK juga dapat digunakan untuk membiayai administrasi perbankan. Semisal sesuai ketentuan bank setempat, memerlukan biaya administrasi dalam rangka membuka dan menutup rekening bank puskesmas. Maka dapat menggunakan dana BOK dari item kegiatan belanja barang penunjang.

“Mekanisme pencairan dana BOK, dari Pemerintah Pusat ditransfer ke Rekening Daerah. Lalu dari rekening daerah, ditransfer ke rekening puskesmas,” terang Sukisno.

Pemilihan sasaran dana BOK pada puskesmas, dia menambahkan, karena puskesmas mempunyai peran yang sangat besar dalam membangun kesehatan masyarakat. Peran tersebut terlihat dari keberhasilan puskesmas membantu pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita, memperbaiki status gizi bayi dan balita, serta menurunkan kejadian penyakit-penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi

“Oleh karena itu, pemerintah bermaksud meningkatkan peran puskesmas melalui upaya merevitalisasinya, yaitu menjadikan puskesmas sebagai pusat pemberdayaan wilayah berwawasan kesehatan, sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, sebagai pusat layanan kesehatan primer, dan sebagai pusat layanan kesehatan peorangan primer,” pungkas Sukisno.(ral)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here