Terkendala Alat Berat, Sanitary Renville Belum Bisa Beroperasi

423
BELUM BEROPERASI :Pembangunan sanitary renville di tempat pembuangan akhir (TPA) Kalimiring sudah selesai, namun belum bisa di operasionalkan lantaran terkendala alat berat. (Foto IST)

KOTAAGUNGBARAT-Pembangunan Sanitary Renville di tempat pembuangan akhir (TPA) Kalimiring, Kecamatan Kotaagung Barat, Tanggamus, sudah selesai dilakukan. Namun untuk operasionalnya masih menunggu adanya alat berat berupa ekskavator dan buldozer.

“Kalau pembangunannya (sanitary renville, red) sudah selesai, tapi belum bisa kami operasionalkan karena belum ada alat berat. Semula alat berat berasal dari pusat, tapi karena disana ada pemotongan maka bantuan alat berat ditiadakan. Sehingga langkah kami harus adakan alat berat sendiri,” kata Kabid Kebersihan dan Pertamanan A. Rahman mewakili Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Tanggamus Mukifli Novem, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, dalam sanitary renville memang diperlukan alat berat berupa ekskavator dan buldozer. Atau minimal ada ekskavator yang fungsinya untuk meratakan sampah yang dibuang ke kolam penampungan sampah. Kemudian dalam ketinggian tertentu sampah akan ditutup tanah. Selanjutnya, di atasnya diberi sampah lagi, begitu terus berulang-ulang.

Sampah yang dimasukkan ke kolam adalah sampah jenis organik. Yang mana, sampah tersebut nantinya akan dibuat pupuk kompos. Hal itu seusai tujuan sanitary renville yakni semua sampah dimanfaatkan. “Sedangkan sampah plastik, logam, atau kategori non organik diolah menjadi menjadi biji plastik atau serupa dengan ukuran kecil untuk bahan daur ulang yang rencananya dilakukan di bank sampah tiap kecamatan,” ujar Rahman.

Ia mengaku, penyelesaian sanitary renville sesuai target yakni selesai pada akhir tahun 2017. Sarana ini sepenuhnya bantuan pusat dengan anggaran sebesar Rp 13 miliar, sedangkan daerah menyediakan lahan berikut alat berat dan dana Rp 750 juta untuk pengolahan sampah nantinya. Caranya dengan menutup sampah dengan tanah secara berlapis-lapis dan periodik.

“Sebenarnya jika lahan rata, dengan anggaran tersebut bisa dibuat dua sarana sanitary renville. Namun karena lahannya miring maka cuma bisa dibuat satu sarana saja. Proses pembangunannya harus memotong pinggang bukit, selanjutnya dibuat lubang kolam sedalam 50 meter dengan luasnya sekitar satu hektare untuk kolam sampah,” terang Rahman.

Dalam sanitary renville, lanjut dia, sarana yang utama adalah kolam sampah. Kolam itu dilapisi karpet keliling pada sisi miringnya, untuk mencegah merembesnya air sampah ke tanah. Lalu dasarnya dicor semen, dan air yang mengalir ke bawah dialirkan ke penampungan air untuk dinetralisir.

“Setelah itu barulah air dilepaskan ke sungai. Instalasi air dibuat seluas 500 meter persegi terdiri tujuh bak, dengan luasan bervariasi tiap baknya,” terangnya.

Selama ini setiap hari sampah yang masuk ke TPA Kalimiring sekitar 10-12 ton dari pengangkutan lima sampai enam truk. Melalui sistem sanitary renville sampah yang masuk diolah, sebab masa sekarang ini TPA tidak boleh lagi mencemari lingkungan mulai dari air resapan, bau, serta jadi sarang binatang penyebar penyakit.

“Untuk pengelolaan aset sanitary renville nanti akan dipegang pusat dulu kurang lebih sampai satu tahun ke depan. Setelah itu baru diserahkan ke daerah. Sebab pengalaman selama ini tidak ada aset yang membangun pusat namun langsung dilepas begitu saja,” katanya.(uji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here